sangat benar apa yg penulis kiaskan di sini….Kesedihan tak akan hilang melainkan bersunyi sunyi sama allah swt……

Tipongtuktuk

bilur

Kau mengarau riak di telaga, bersampan kayu menakar jelaga dengan cangkir-cangkir kopi; butiran arang meruah ke dalam arus seperti prahara hitam yang kalah …

Aku tertawa menokoh renjana yang menggigis, terduduk ilu menyampang arah ke bibir daratan; tuntas merampai semua kama yang melabuh sauh menjadi antologi meski lantas kaukaramkan jua sedalam rahasia …

Benar, penanda waktu tak henti berkisaran selepas itu, palut usia pun terkelupas melintasi hujan dan kemarau. Tak lengkara ribuan matahari telah karam di luar hitunganku semenjak kau menjarak dari kedekatan, namun beribu-ribu malam yang panjang tak jua melesapkanmu dari ingatan –begitu juga warna luka yang kaupilihkan …

“Cinta telah menakik bilur pada ingatan, seorang pencinta menyadap pitawat dari lukanya,” itu semiang majasmu di hujung pertemuan, namun seakan-akan baru kemarin kau menggerisik di dekat hatiku yang terjatuh …

 

******************

Pitawat:

 

 قال ابن قيم رحمه الله: … في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله،…

View original post 87 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s